Oleh: de2t | Januari 10, 2010

Heartless

a reason to stay

kewarasan perlahan menjauhi saya.

benar sekali, logika gagal bicara. yang ada hanya rasa.

ah saya toh hanya manusia biasa.

ketidaksempurnaan inilah yang membuat saya jadi seorang manusia.

terdiam, tersenyum, teriak, dan tertegun.

seperti mati bunuh diri menusuk jantung dengan belati.

tak mungkin muncul asap jika tak ada api membakar.

butuh katalis hingga membuat senyawa ini bereaksi.

anggap saja memang begini ujiannya.

membuktikan ketangguhan dan ketahanan saya.

pisahkan dulu hati ini dari saya.

rasanya ingin tertawa, melihat mood saya berserakan.

satu satu dirangkai perlahan.

Ya Tuhan, saya butuh dukungan dalam proses yang berjalan entah sampai kapan.

Satu awalan panjang, yang saya sangat yakini

Ketika niatan itu baik, maka selalu ada jalan menuju kesana.

Terimakasih Tuhan, untuk curhat rahasia tengah malam kita.

Juga pada  tangan-tangan yang memeluk saya dengan semangat dan harapan.

Akan ada sinaran, yang menentramkan, nanti iya nanti. (; (dee)

Oleh: de2t | Januari 4, 2010

Tinggallah Di Sini

Jingga pernah ada, merona di antara bayang satu kata bertutur cinta

Sapamu padanya, tentang sebuah janji bernama setia

Karena musim akan terus berganti, sementara kamu dan dia tetap berjalan bersama

Setajam badai datang menyapu, kamu bilang itu pasti segera reda

Namun angin berputar makin kuat dalam pusarannya

Bagai pertunjukkan palsu milik semesta

Sapamu tentang cinta, sapamu tentang setia, pudar sudah tak berbekas

Airmatanya bahkan tak mampu mengikis keras hatimu

Hei lelaki, kemana saja torehan janji dulu itu?

Tak berhakkah dia meminta lagi, apa yang sudah sempat tertulis?

Ataukah kamu memang sudah enggan mengguratkan kisah bersamanya?

Kamu masih terus saja betah bertopeng

Menghambur paksa dalam segala dusta-dustamu itu

Menahun, dan itu bukan saja satu momentum kecil kemarin sore

Fase berulang, memuakkkan, melelahkan

Ceceran caci maki, tak sanggup membuatmu membuka mata

Rintihan memohon, tak membuatmu bergeming bahkan berucap maaf

Doa demi doa, pinta demi pinta

Bila kata selesai mampu mengakhiri

Tak adakah hak untuk memintamu tetap tinggal?
Kembali jadi pohon besar tempat bersandar

Bukan jadi batu raksasa yang kejam dan angkuh

Tangan itu ingin merengkuhmu, ah andai saja dia masih mampu.

Hidup dalam lingkaran ketakberpihakan? Manusia toh hanya bisa menjalani apa yang digariskan. Bukannya menghapus garis miliknya, lantas menorehkan ulang. Saya takut meminta orang lain tinggal di samping saya selamanya. Meskipun hati kecil saya berbisik, ingin sekali ditemani. Saya takut, suatu saat harus menelan pahit bernama kecewa. Bukan berarti tak percaya pada esensi sejati dari kata-kata percaya dan bahagia. Namun terlalu banyak berharap hanya akan menyisakan kecemasan. Because beginning has its own end, even every end has its own way. Saya hanya mau berjalan, menikmati yang ada saat ini dan berdoa untuk esok hari. Honestly, I’m happy to have you in my side. (:

Oleh: de2t | Januari 1, 2010

and 2010 begin…

wow! memang benar kalau waktu terus berlari mengejar saya. Lihat saja, baru sebentar menghela nafas eh satu kalender lagi sudah harus terbuang. Alias sudah berganti tahun.  Oke, mungkin saya mau minta maaf cup cup muah sama si blog satu ini yang sudah jarang di coret-coret. Karena saya selingkuh sama si blog di aninditapusparani.blogspot.com. Mungkin mulai sekarang saya harus adil yah sama kalian berdua, anak-anakku. Hoho.

Thank you very much vo my Allah SWT that still give me a chance to pass 2009 with too many stories and memories until 201o come.  (:

Sebenernya nggak punya esensi khusus mau nulis apa. Cuma pengen bikin postingan pembuka di tahun 2010 aja. Dan sedang bingung menimbang-nimbang mau kemana blog ini dibawa. Yup, bukankah semua hal diciptakan untuk tujuan tertentu. Sama dong kayak saya bikin blog disana-sini. Saya harus segera memutuskan mau diapakan blog ini. Sekedar dibuat nulis-nulis nggak penting. Atau dikasih tema tertentu. Misalnya fashion blog yang isinya tentang style, atau metal blog (baca : melow total) yang isinya menye-menye melulu. :D   Atau tetep jadi blog pengalaman pribadi yang isinya curcol setiap saat dan mimpi-mimpi gila saya. Haha. Pokoknya sih yang paling penting adalah tetap berusaha menulis dari hati. Menulis apa yang pengen diungkapkan dan dibagi.

Last, welcome 2010. (: keep blogging deh!

Oleh: de2t | Oktober 5, 2009

Episode Membaca

Berderet judul terpampang di depan mata

Tersusun di atas rak-rak berdebu

Ada yang bersampul plastik, ada yang bersampul coklat, ada yang dibiarkan tanpa sampul.

Ah, saya tak pandai memilih

Hanya menarik satu buku tebal, tergerak oleh nurani

Covernya sekilas biasa saja

Tapi saya merasa, buku ini punya kisah menarik

Tentang satu perjalanan panjang

Beriring tawa dan airmata

Siapa sangka saya terhanyut saat mulai menekuri huruf-hurufnya

Berusaha keras memahami tanpa melewatkan satupun kata

Perlu usaha untuk mampu meneruskannya

Hm, apa boleh saya mengaku?

Buku ini tak boleh dibaca

Setidaknya itu penilaian saya

Sudah kepalang basah

Saya ingin jadi penikmat akhir ceritanya

Berharap tercetak ‘happilly ever after’

Seperti dongeng pangeran dan putri salju

Semakin lama dibaca, malah makin bingung jadinya

Sampai saat satu titik habis terlewat

Halaman selanjutnya justru kosong tanpa tulisan

Ini artinya apa?

Ya ya ya…mungkin sudah waktu berhenti membaca buku itu.

*Taruh kertas pembatas, letakkan ke tempat semula, bersikap tak terjadi apa-apa*

Oleh: de2t | Oktober 3, 2009

Fase Terkutuk

Berhenti menelanjangi saya

Kamu pikir enak apa jadi saya

Seenaknya saja bicara

Makanya izin dulu, jangan asal main kata-kata

Bolehkah sekarang gantian saya yang bilang

Ironis lihat orang kayak kamu!

Kamu punya otak, tapi nggak punya nurani

Tanya deh sekarang

Apa saya orang yang banyak maunya?

Apa saya susah diajak kompromi?

Apa saya susah buat disenangkan?

Berlagak paling benar

Malah menginjak-injak teritori pribadi

Duoooooooooooooooohhhh, sebel banget!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

Minta apalagi sih???

*sudah habis kata, sudah lelah marah*

Oleh: de2t | September 26, 2009

fehlen

Secangkir kopi serta sepotong rindu menjadi menu penutup sahur saya malam ini. Haha, silahkan saja tertawa kalau ternyata saya masih doyan bermelow-melow ria. Setelah kenyang makan soto sisa kemarin sore, saya butuh sesuatu untuk melegakan hati. Pilihan jatuh pada secangkir kopi instant. Ditambah dengan sepotong rindu yang tadi sudah saya katakan.

Bagi saya kopi dan rindu adalah dua objek berbeda yang sama. Iya, saya bukanlah seseorang yang baru mencicipi aroma serta rasa kopi. Sudah berpuluh-puluh gelas kopi aneka merek dan rasa yang saya coba. Tentu saja masing-masing meninggalkan kesan yang berbeda.

Sama halnya dengan rindu, perasaan ini memang bukan yang pertama. Meskipun dalam kurun waktu tertentu, tertuju pada subjek yang berbeda-beda. Rindu, perasaan yang luarbiasa. Membuat saya mampu tak tidur dari satu malam ke malam lain. Dengan konyolnya mencoba mencari pengalihan. Menghabiskan berlembar-lembar halaman buku untuk mengingkarinya.

Perasaan satu ini jadi pertanda, bahwa kita masih punya hati nurani. Bahwa kita masih patut bangga karena kita rindu menjadikan kita orang yang tidak egois. Bagaimana rasanya dengan rindu menahun? Saya penasaran, bagaimana seseorang bisa merindu sementara ia tak mampu menyampaikan kata rindu itu. Hm, pasti rasanya menyebalkan. Tapi bisa juga menyenangkan. Rindu membuat kita tahu, kalau kita masih peduli padanya. Meskipun bisa saja, ia tak pernah sadar rasa rindu itu ada.

Ya Tuhan, maaf jika saya meracau. Ini blog saya kan? Rumah pribadi saya berarti. Nah, artinya nggak masalah jika saya memenuhinya dengan segala macam racauan bego saya-yang-kekenyangan-nasi-dan-sedang-menunggu-subuh-tiba.

Omong-omong soal rindu, gara-gara sekarang ini bekerja. Saya jadi sangat menghargai perasaan itu. Tahu kenapa? Ya, karena meskipun tinggal serumah dengan mama, papa serta adik saya satu-satunya. Waktu saya untuk bertemu dengan mereka jadi tersita. Saya jauuuh lebih banyak berada di kantor, GOR basket dan PTC ketimbang saya ada di rumah.

Jadinya kan saya jarang sekali punya kesempatan bertemu dengan mereka. Kalaupun pulang, sudah pada tidur semua. Pas saya bangun tidur, semua sudah berangkat kerja dan sekolah. Hah, saya sampai merasa jadi anak kos-kosan yang sekedar numpang mandi dan tidur. Menyakitkan memang. Awalnya saya merasa terasingkan dengan situasi ini.

Sampai-sampai saya sempat lho punya perasaan mendadak pengen mewek gara-gara inget pengen ketemu ortu dan adik. Salah satunya waktu dikirim ke Malang, masa pas lagi evaluasi tiba-tiba saya ingat rumah. Saat itu pikiran saya Cuma satu. Bagaimana caranya untuk segera pulang. No way! Saya bukan anak manja dan cengeng, ini lebih kepada sebuah keterikatan yang kuat. Karena anggota keluarga saya memang jarang jauh satu sama lain.

Well, saya sekarang sudah punya trik sendiri biar nggak kangen rumah. Kalau pulang malam, sekalian saja nggak tidur. Nunggu orang rumah bangun, biar bisa ngobrol, nemenin sarapan juga. Baru deh setelah semua pergi, giliran saya yang pergi tidur. Kalau ada kuliah pagi ya langsung kuliah sekalian. Huhu, butuh pengorbanan memang ya!

Itu tadi kalau saya sedang rindu rumah dan keluarga. Beda lagi ceritanya kalau saya bicara rindu lawan jenis. Hahaha. Ketawa saja sudah cukup. Saya lampiaskan rindu itu dalam bentuk memenangkan ego saya. Benar sekali, saya akan mengingkari bahwa rindu itu ada. Biarpun memang benar-benar ada. Mbulet? Iyaaaaa, saya aja bingung kok.

Ceritanya lain kalau kamu yang saya rindukan itu pacar atau sahabat saya misalnya. Kan bisa saja saya kirim sms, ‘Kangen nih.’ Atau ‘Wah, pengen ketemu.’ Atau apalah itu namanya. Nggak membayangkan apa jadinya kalau sekarang saya mengirimkan sms semacam itu ke kamu. Minimal kamu ngetawain saya, maksimal saya dimusuhi seumur hidup. Ahoooo, kumat lebai nih!

Udah ah, subuhnya sudah datang. Waktunya sholat dulu. Semoga rindu kamu terbalas ya, atau setidaknya ada sarana buat menyampaikannya. Biar nggak pusing gara-gara gelisah susah tidur. (:

260909

04.45

Oleh: de2t | September 20, 2009

Maaf Itu Sakti

Percaya atau nggak, kata maaf termasuk salah satu kata yang mahal harganya. Padahal kita mungkin berpikir, apa susahnya sih bilang maaf. Susah! Ternyata mengucapkan akan menjadi sangat berat bahkan kadang-kadang nggak sanggup diucapkan.

Apa yang membuat kata maaf itu jadi mahal? Sebenarnya adalah diri kita sendiri. Karena saat mengucapkan kata-kata itu kita harus benar-benar tulus melakukannya. Bukan sekedar sebuah formalitas yang berlaku di masyarakat.

Tak jarang, antara dua belah pihak saling tunggu menunggu siapa yang seharusnya minta maaf lebih dulu. Mengaku salah bukan berarti kita jadi orang kalah. Justru si pemenang itulah orang yang dengan ksatria mau meminta maaf lebih dulu.

Sayangnya, lagi-lagi yang namanya gengsi dan ego suka menyerobot. Bikin kita berpikir ulang buat minta maaf. Rasanya akan jadi sangat berat untuk mengucapkan kata itu. Ujung-ujungnya masalah yang bisa selesai dengan saling berjabat tangan malah justru jadi berkepanjangan. Wah, nggak enak banget tuh.

Saya sendiri sering menemui orang-orang yang susah banget minta maaf. Iya, bahkan sampai bisa tahan diem-dieman lama Cuma gara-gara menunggu kata maaf. Tuhkan, simpel terkesan sepele tapi ternyata nggak mudah.

Disamping itu, menjadi seorang pemaaf juga tak kalah beratnya. Hayo ngaku saja, di mulut mungkin kita bilang,”Oh, iya nggak apa-apa kok. Sudah dimaafkan.” Tapi siapa sih yang pernah tahu isi hati orang. Bisa jadi dalam hati ia masih menyimpan marah yang nggak kita sadari.

Begitu juga setiapkali Hari Kemenangan Agama saya yaitu Hari Raya Idul Fitri tiba. Selalu terlintas pertanyaan yang sama. Semudah itukah kami saling memaafkan? Kalau memang iya kenapa tidak.

Hm, maksud saya tentu bukan sekedar berkirim sms kata-kata lucu, saling berjabat tangan dan berangkulan. Itu hanyalah ritual saja, ritual yang kita pilih sebagai sarana perdamaian. Tapi saya penasaran dengan maaf tulus yang berasal dari dalam hati. Maaf yang bahkan tanpa perlu terucap sudah menghapus semua rasa iri, dengki, dendam, dan marah.

Bayangkan saja kalau dua negara yang sedang bertikai, lalu tiba-tiba presiden mereka berdiri di podium dan berjabat tangan saling minta maaf. Lalu, bukan tidak mungkin kan tentara mereka yang sedang baku tembak lantas berbalik berangkulan saling meminta maaf.

Iya kan, perang-perang yang terjadi mayoritas hanya lantaran ingin meninggikan ego masing-masing.

Nah, sekarang pertanyaannya. Kalau memang momen Lebaran untuk saling memaafkan.Kenapa kita tidak pernah datang pada orang-orang yang mungkin jadi musuh kita. Kenapa tidak berkirim kartu Lebaran pada orang-orang yang selama ini bertengkar dengan kita.

Yang ada kita justru datang pada teman-teman terdekat, setelah orangtua dan saudara tentunya, untuk bermaafan. Lalu kita mengabaikan peranan maaf untuk menyambung silaturahmi dengan musuh kita. Aneh kan? Nggak sih, karena demikianlah yang jadi hal umum di masyarakat.

Di luar konteks, kata maaf bisa bikin PT. Pos Indonesia sempat berjaya karena banyak yang beli kartu Lebaran. Kata maaf bisa bikin penjual parsel laris manis. Kata maaf bisa bikin dua negara batal berperang. Kata maaf bisa bikin dua saudara berhenti adu mulut. Kata maaf bisa bikin orangtua mengampuni anaknya yang durhaka.Kata maaf bisa bikin dua sahabat berkawan semakin erat. Kata maaf bisa bikin karyawan urung resign.

Jadi jangan salahkan saya bila ternyata kata ‘maaf’ punya kekuatan lebih sakti dari sudah kita duga selama ini.

Hari ini, saat saya menuliskan ini adalah tepat tanggal 1 Syawal 1430 H. Hari dimana umat Islam berbondong-bondong datang ke masjid untuk menunaikan salat Ied. Ibadah yang hanya kita jumpai satu kali dalam setahun. Sungguh karuniaMu yang indah ya Allah.

Dan saya yang biasa begadang, menghabiskan malam dengan merenung. Mengevaluasi diri selama setahun ke belakang. Kalau dalam satu hari saya bikin sebel satu orang saja, berarti sampai hari ini saya punya 365 orang yang sebel sama saya. Wah, moga-moga stok maaf mereka masih banyak.

Itu tadi kalau terjadi Cuma pada satu orang. Nah kalau satu gerombolan, berarti makin banyak saja orang yang sebel sama saya. Hm, sanggup nggak ya saya mengakui kesalahan tersebut. Melontarkan kalimat maaf yang tulus dari hati.

Saya berusaha. Saya akan berusaha. Kalau misalnya saya diam saja, berarti saya tidak pantas memaafkan diri saya. Karena ini hanya akan sama saja menjalani momen Lebaran sebatas keharusan.

Akan diperlukan kekuatan ekstra keras serta kesabaran tanpa batas agar kita semua mampu kembali pada fitrah.

Untuk kamu, kamu, kamu, kamu, kamu, iya kamu, juga kamu, dan kamu, kamu yang itu, kamu yang satunya lagi, dan semuanya saja yang pernah menempatkan saya sebagai orang yang menyebalkan. Ayo kita sama-sama berangkulan, saya mohon agar dimaafkan. Bukan sebagai pembelaan tapi untuk pelajaran. (dee)

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1430 Hijriah.

.anindita pusparani.

Sajadah ini aku hamparkan, diiringi doa pada Engkau PenciptaKu

Pertemukan kami kembali ya Allah dengan bulan Ramadhan

Dimana pahala ibadah kami dapat dilipatgandakan

Saat-saat kami punya kesempatan kembali menuju kesucian

Ya Allah, rangkul kami dengan petunjukMu

Jangan Engkau tinggalkan kami sendiri

Tegur kami karena kami terlalu sering lupa diri

Karena Engkaulah yang Maha Besar, dengan segala ketetapanMu

Oleh: de2t | September 18, 2009

Quote 1 (:

“Tak ada sehelaipun daun yang jatuh di muka bumi ini kecuali tercatat dalam kitab yang terjaga. Semua atas kehendak Allah, agar kita tak terlalu bangga saat disapa nikmat dan tak terlalu sedih ketika kehilangan..”
Oleh: de2t | September 16, 2009

Sebuah Catatan Hati

…hanya ketika mulut tak mampu bicara, biarkan huruf-huruf ini yang mewakili saya. takkan pernah menjadi mudah, tapi tidak dipungkiri saya sedikit lelah. . . sudah cukup, saya pernah katakan tidak mau mengakui setitikpun kejujuran. karena jujur tak membuat segalanya lebih baik. karena terlalu banyak tahu tidak selalu membuat keadaan menjadi lebih bagus. kalian yang memaksa saya bicara. dengan segala keterpaksaan saya anggukkan juga kepala ini. meskipun tidak secara lugas saya mau membuat pengakuan. saya marah, itulah saat dimana kalian menginjak-injak comfort zone saya. tolong hargai saya sedikit saja dan saya akan lakukan hal yang sama. benar begitulah jadinya, kamu sakit hati kan? cemburu? kenapa sih masih pura-pura semua berjalan normal. ketika kamu menyangkal, saya semakin yakin itu benar. bagi saya, semua tidak akan pernah lagi sama. kamu dengan segala curigamu dan tudinganmu. saya dengan segala ketakutan saya. cukuplah saya katakan, tidak pernah terjadi apa-apa. prasangkamu itu terlalu tinggi untuk menjadi nyata. saya tidak suka dengan caramu memandang masalah seolah kamu pihak paling benar, paling bijaksana. berhentilah bertanya. berhentilah mencari tahu. sakit sendiri kamu jadinya. karena mata dan telinga tidak selalu benar menangkap makna. cukup logika dan hati yang bekerja. ini masalah hati, kita tak butuh polisi, apalagi seorang hakim yang akan mengetuk palu vonis. kita hanya butuh kejujuran untuk diri sendiri. saya senang melihat kamu dan dia toh akhirnya senang. tunggu dulu, inilah proses menuju happy ending. tiga tahun tidaklah singkat. 365 x 3 = 1095 hari penuh tawa, airmata dan doa yang tak pernah putusnya. Maka, takkan ada yang bisa melanggar ketetapanNya. Tidak juga saya. saya hanya minta dimengerti. sekali lagi, ini tidak akan pernah mudah. bukan berarti saya tidak bisa. biarkan dulu saya begini. kita tak pernah merencanakan apapun untuk terjadi, dan takkan pernah tahu apa yang sedang menanti (: *sebuah langkah kecil*

Oleh: de2t | September 14, 2009

When Twenty Begin

Heyy, today’s my big birthday. Yippie! Thank’s to Allah who still give me a very blissful life. Yayy..let me write down my wishing list for future. Actually 20 wishing is not enouh. Because we have unlimited wishing. But, let’s try and see.

1. make it balance between hablum minallah and hablum minannas.

Beraaat! Hubungan vertical dan horizontal itu sussah banget yah dijalani secara seimbang. Gimana kalau sekalian aja dua-duanya dibikin diagonal. Haha.

2. make my parents proud of me.

Tugasnya anak apalagi sih kalau bukan berbakti. Dan saya belum melakukannya. Pengen banget bisa jadi anak baik dan bikin ortu bangga. Bukan sekedar nyusahin terus.

3. be a good sampler.

Aneh nih bahasanya. Bener nggak sih. Intinya sebagai anak tertua harus bisa jadi panutan yang bagus buat adik cewek saya satu-satunya. Harus kasih contoh yang bener begitu dah.

4. graduate from college on time.

Hosshhh…ini nih yang bikin saya pusing setengah mati. Tapi saya yakin tahun 2011 nanti sudah jadi S. E. Amien.

5. good writer.

Itu cita-cita saya dari kecil. Pengen jadi penulis handal kayak Dewi Lestari atau Paulo Coelho.

6. attitude changing.

Setiap orang pasti berubah. Itu mutlak. Mau jadi apa, itu pilihan. Oke, saya ini orangnya judes lho! Jutek, galak, jahat pisan. Nggak ada bagus-bagusnya. Kenapa? Saya punya alasan. Lagian, kalau saya jadi sabar dan manis mungkin orang malah bingung ya. Boleh dicoba sih. :D

7. pintar memasak dan menyetir mobil.

Masak sih bisaa. Cuma yang gamang-gampang aja. Kayak sayur asem atau sop-sop gitu. Pengen bisa masak yang keren. Terus bisa nyetir mobil, ini nih murni tuntutan ortu. Padahal haduh takut banget megang setir bunder. Dodol ah.

8. go abroad.

Pengen deh backpacker-an ke luar negeri. Asia dulu, baru Eropa. Hihi. Banyak gaya. Indonesia aja belum khatam.

9. take my family picnic around the world. Nggak adil kalau cuma saya saja yang jalan-jalan keluar negeri. Jadinya harus ngajak mama papa sama adek dong! Tunggu anakmu ini berusaha yaa.
10. umrah + naik haji = menyempurnakan ibadah. Someday I will, kalau sudah mampu yaaa. Amien.
11. Kuliah S2 di luar negeri.

Di depan mata, salah. . .salah . . . di dalem kepala sudah terbayang asyiknya jadi mahasiswa S2 di luar negeri. Tapi apa saya betah ya belajar lama-lama. He he.

12. Get a good salary.

10 juta! Iya, saya mau banget tuh kerja dengan gaji bulanan 10 juta. Semoga saya yah ada kantoran yang mau menerima pegawai dengan kualifikasi seperti saya ini. Bergaransi lho! Ha ha.

13. Famous Enterpreneur.

Donald Trump saja bisa. Berarti bukan nggak mungkin terjadi pada saya. Because impossible is nothing. Pengennya kebanyakan nih, pengen punya took kue, punya took buku, punya perusahaan Koran atau majalah sendiri. He he.

14. Killing my Enemy.

Stop mikir negative. Maksudnya menumpas musuh-musuh saya itu, mengubah hubungan buruk jadi berteman. Yah, saya sadar kok. Kita nggak bisa memaksa semua orang biar mau menerima kita.

15. being thin.

No! no! saya bukannya berniat jadi korban anorexia atau bulimia. Saya nggak lagi terobsesi biar kayak model-model ceking. Cuma pengen mengembalikan badan saya normal kayak dulu. Hihi. Menggembul banget nih.

16. publish my own book.

Ada korelasinya sama keinginan saya buat jadi penulis hebat. Hm, asyik kali ya punya buku yang jadi best seller dan inspiring buat a lotta people.

17. life happily ever after.

Nggak Cuma Cinderella sama Putri Salju aja yang bisa kayak gitu. Saya juga mau ah, berusaha buat create my own fairy tale. =P

18. collect a million bestfriend.

Seribu teman terlalu sedikit buat jadi bagian dari hidup kita.

19. falling in love everyday.

Enak lho jatuh cinta itu. Bikin bahagia terus bawaannya. Yah, makin sip kalau jatuh cinta sama orang yang tepat.

20. U. (:

masih banyak sih pengennya. Cukuplah, dijalani satu-satu saja. Semoga targetan saya nggak ada yang meleset ya. :)

Tulisan Sebelumnya »

Kategori